disabler

Kamis, 03 Januari 2019

Pendekatan Sistem Partisipatif Untuk Perencanaan Pertanian Perkotaan Dan Pinggiran Kota: Peran Dinamika Sistem Dan Pembentukan Model Kelompok Spasial


Pendekatan Sistem Partisipatif Untuk Perencanaan Pertanian Perkotaan Dan Pinggiran Kota: Peran Dinamika Sistem Dan Pembentukan Model Kelompok Spasial

Pendahuluan
Pertanian perkotaan(peri-urban argicultur)  dimana hubungannya dengan pemetaan wilayah yang cocok di daerah pinggiran kota agar dapat menjadi berkelanjutan sebagai pemasok sayuran dan hasil pertanian lainnya. Sehingga usaha yang dilakukan seorang petani dalam merawat lahannya tidak sia – sia karena lahannya yang tidak cocok dijadikan lahan pertanian maka dari itu perlu kajian pemodelan yang tepat dalam menentukan lahan pertanian perkotaan tersebut, juga pembangunan model kelompok spasial ditentukan agar dapat terlaksana secara berkelanjutan, biasanya pembangunan ini dilakukan secara bottom-up biasanya dimulai oleh individu atau organisasi non-pemerintah daripada oleh pemerintah atau difasilitasi oleh para perencana.

Peran Devinisi dan Skala
  • ·         Peran

Pertanian perkotaan seharusnya tidak mencoba untuk menggantikan pertanian pedesaan, melainkan Pertanian perkotaan harus dengan demikian melengkapi pertanian pedesaan
  • ·         Definisi

Daerah peri-urban sebagai daerah-daerah di mana produksi pertanian (atau bagian) terhubung langsung ke kota. Bukan perbedaan antara kota dan pinggiran kota.
  • ·         Skala

Skala yang dimaksud adalah dalam system pangan dimana harus dipertimbangkan dengan jelas kebutuhan penduduknya sehingga perlu penilaian individu untuk mengetahui kebutuhan pangan di setiap daerahnya.



Model Sistem Dinamia (SD)


Model SD adalah model dinamis yang memetakan arus, proses, dan hubungan antara aktor yang ada dalam sistem yang kompleks (Sterman, 2000). penggerak lingkungan dan penggunaan lahan dari pengembangan rantai nilai yang mewakili bagian eksternal formal dari sistem. Perubahan peraturan, ketersediaan lahan, atau teknologi lingkungan dapat mempengaruhi sisi pasokan pengembangan rantai nilai pertanian perkotaan. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan insentif untuk pengembangan kebijakan yang lebih ramah pertanian perkotaan, meskipun ini dapat dimediasi dan dipengaruhi oleh tekanan lokal dan ekonomi. periode berikutnya.

Pembangunan Model Kelompok Spasial


Langkah-langkah dalam melakukan model kelompok spasial :
  1. Memperkenalkan bahasa dinamika sistem sebagai alat komunikasi.
  2. Definisikan konsensus tentang tempat / lokasi - apa itu spasial
  3. Apa masalahnya dan bagaimana itu diratakan secara spasial (intern eksternal)?
  4. Apa penyebab masalah - yang mana dari mereka intern eksternal?
  5. Apa konsekuensi dari masalah - yang mana mereka internal / eksternal?
  6. Apa umpan balik antara konsekuensi dan penyebab, dan bagaimana lanskap memediasi ini?
  7. Bagaimana kita mendefinisikan batas-batas model secara spasial?
  8. Operasionalisasi model dinamika sistem spasial.
Gambaran Ruang Masalah Trend dan Pertanian Perkotaan


Didalam peta yang telah diolah GIS tersebut dapat di plot tren dalam populasi, karakteristik sosio-demografi, dan penggunaan lahan menggunakan peta itu sendiri (menggunakan fitur spasial dari gerakan atau angka-angka), sehingga membumi fenomena ini secara spasial. Seperti yang akan dibahas nanti, lokasi tren ini memiliki implikasi penting untuk arah dan masa depan untuk pertanian perkotaan organik yang dapat mempengaruhi potensi jangka panjangnya. Di SGMB, peta membawa para pemangku kepentingan bersama daripada (berpotensi) memisahkan mereka. Karena peta sederhana digunakan, tidak ada satu kelompok pun yang memiliki keunggulan khusus dalam keterampilan atau informasi teknis, sehingga memungkinkan peningkatan komunikasi dan pembelajaran bersama yang difasilitasi oleh penggunaan alat dan bahasa pemikiran sistem. Jadi dalam proses SGMB ini bukan proses top-down melainkan proses bottom-up dengan mengajak masyarakatnya berpartisipasi demi kelancaran pertanian perkotaan dan dapat berjalan secara berkelanjutan.

Kesimpulan
Pertanian perkotaan adalah fenomena penting dan berkembang di Indonesia banyak kota di dunia. Ini memberikan sumber mata pencaharian, kohesi sosial, rekreasi, penatalayanan lingkungan, dan milik para pesertanya. kami berpendapat bahwa model dinamika sistem dan proses pembentukan model grup memiliki peran penting dalam menjembatani kesenjangan antara proses bottom up inisiatif pertanian perkotaan dan sistem top-down perencanaan kota. Alat-alat tersebut, baik kualitatif maupun kuantitatif, menyatukan dan melibatkan para pemangku kepentingan di semua tingkat partisipasi, dan mampu tidak hanya mengkonseptualisasikan sistem yang ada tetapi juga dapat menyoroti efek potensial dari skenario alternatif dari waktu ke waktu dan ruang. Pada saat ini, mereka dapat memprediksi dan mempersiapkan situasi baru di masa depan dengan lebih baik, serta secara signifikan mengurangi penundaan antara munculnya situasi baru dan penciptaan kebijakan yang bereaksi terhadap perubahan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar