Pendekatan Sistem
Partisipatif Untuk Perencanaan Pertanian Perkotaan Dan Pinggiran Kota: Peran
Dinamika Sistem Dan Pembentukan Model Kelompok Spasial
Pendahuluan
Pertanian
perkotaan(peri-urban argicultur)
dimana hubungannya dengan pemetaan wilayah yang cocok di daerah
pinggiran kota agar dapat menjadi berkelanjutan sebagai pemasok sayuran dan
hasil pertanian lainnya. Sehingga usaha yang dilakukan seorang petani dalam
merawat lahannya tidak sia – sia karena lahannya yang tidak cocok dijadikan
lahan pertanian maka dari itu perlu kajian pemodelan yang tepat dalam
menentukan lahan pertanian perkotaan tersebut, juga pembangunan model kelompok
spasial ditentukan agar dapat terlaksana secara berkelanjutan, biasanya
pembangunan ini dilakukan secara bottom-up biasanya dimulai oleh individu atau
organisasi non-pemerintah daripada oleh pemerintah atau difasilitasi oleh para
perencana.
Peran Devinisi dan Skala
- · Peran
Pertanian
perkotaan seharusnya tidak mencoba untuk menggantikan pertanian pedesaan,
melainkan Pertanian perkotaan harus dengan demikian melengkapi pertanian
pedesaan
- · Definisi
Daerah
peri-urban sebagai daerah-daerah di mana produksi pertanian (atau bagian)
terhubung langsung ke kota. Bukan perbedaan antara kota dan pinggiran kota.
- · Skala
Skala
yang dimaksud adalah dalam system pangan dimana harus dipertimbangkan dengan
jelas kebutuhan penduduknya sehingga perlu penilaian individu untuk mengetahui
kebutuhan pangan di setiap daerahnya.
Model Sistem Dinamia (SD)
Model
SD adalah model dinamis yang memetakan arus, proses, dan hubungan antara aktor
yang ada dalam sistem yang kompleks (Sterman, 2000). penggerak lingkungan dan
penggunaan lahan dari pengembangan rantai nilai yang mewakili bagian eksternal
formal dari sistem. Perubahan peraturan, ketersediaan lahan, atau teknologi
lingkungan dapat mempengaruhi sisi pasokan pengembangan rantai nilai pertanian
perkotaan. Hal ini pada gilirannya dapat menciptakan insentif untuk
pengembangan kebijakan yang lebih ramah pertanian perkotaan, meskipun ini dapat
dimediasi dan dipengaruhi oleh tekanan lokal dan ekonomi. periode berikutnya.
Pembangunan
Model Kelompok Spasial
Langkah-langkah
dalam melakukan model kelompok spasial :
- Memperkenalkan bahasa dinamika
sistem sebagai alat komunikasi.
- Definisikan konsensus tentang tempat / lokasi - apa
itu spasial
- Apa
masalahnya dan bagaimana itu diratakan secara spasial (intern eksternal)?
- Apa
penyebab masalah - yang mana dari mereka intern eksternal?
- Apa
konsekuensi dari masalah - yang mana mereka internal / eksternal?
- Apa
umpan balik antara konsekuensi dan penyebab, dan bagaimana lanskap
memediasi ini?
- Bagaimana
kita mendefinisikan batas-batas model secara spasial?
- Operasionalisasi
model dinamika sistem spasial.
Gambaran
Ruang Masalah Trend dan Pertanian Perkotaan
Didalam
peta yang telah diolah GIS tersebut dapat di plot tren dalam
populasi, karakteristik sosio-demografi, dan penggunaan lahan menggunakan peta
itu sendiri (menggunakan fitur spasial dari gerakan atau angka-angka), sehingga
membumi fenomena ini secara spasial. Seperti yang akan dibahas nanti, lokasi
tren ini memiliki implikasi penting untuk arah dan masa depan untuk pertanian
perkotaan organik yang dapat mempengaruhi potensi jangka panjangnya. Di SGMB, peta
membawa para pemangku kepentingan bersama daripada (berpotensi) memisahkan
mereka. Karena peta sederhana digunakan, tidak ada satu kelompok pun yang
memiliki keunggulan khusus dalam keterampilan atau informasi teknis, sehingga
memungkinkan peningkatan komunikasi dan pembelajaran bersama yang difasilitasi
oleh penggunaan alat dan bahasa pemikiran sistem. Jadi dalam proses SGMB ini bukan proses top-down
melainkan proses bottom-up dengan mengajak masyarakatnya berpartisipasi demi
kelancaran pertanian perkotaan dan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Kesimpulan
Pertanian
perkotaan adalah fenomena penting dan berkembang di Indonesia banyak kota di
dunia. Ini memberikan sumber mata pencaharian, kohesi sosial, rekreasi,
penatalayanan lingkungan, dan milik para pesertanya. kami berpendapat bahwa
model dinamika sistem dan proses pembentukan model grup memiliki peran penting
dalam menjembatani kesenjangan antara proses bottom up inisiatif pertanian
perkotaan dan sistem top-down perencanaan kota. Alat-alat tersebut, baik kualitatif
maupun kuantitatif, menyatukan dan melibatkan para pemangku kepentingan di
semua tingkat partisipasi, dan mampu tidak hanya mengkonseptualisasikan sistem
yang ada tetapi juga dapat menyoroti efek potensial dari skenario alternatif
dari waktu ke waktu dan ruang. Pada saat ini, mereka dapat memprediksi dan
mempersiapkan situasi baru di masa depan dengan lebih baik, serta secara
signifikan mengurangi penundaan antara munculnya situasi baru dan penciptaan
kebijakan yang bereaksi terhadap perubahan ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar